PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SHOLLALLAHU ´ALAYHİ WASALLAM


Ketika kita membaca kalimat di atas maka di dalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat


ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas
penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).

Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yang membuat mereka gembira, apakah
keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta,
mabuk - mabukkan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan
lainnya, demikian adat istiadat di seluruh dunia.

Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya

• Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari
kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)

• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari
wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)

• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala Shahihain hadits
No.4177)



• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah
ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman)
melihat bintang - bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya, lalu ia

melihat cahaya terang - benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang
Benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)




• Ketika Rasul saw lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)

• Riwayat Shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi
saw melihat cahaya yang terang - benderang hingga pandangannya menembus dan melihat
Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah
jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yang 1000 tahun tak
pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)



Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul

menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad

Rasulullah saw di alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada

kelahiran Nabi - Nabi sebelumnya.
saw memuliakan hari kelahiran beliau saw



Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah

hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits No.1162). Dari

hadits ini sebagian saudara - saudara kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw
asal dengan puasa.
Rasul saw jelas - jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda di hadapan beliau
saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau
saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh - boleh saja..”,
namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari
kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd
bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas - jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 Januari adalah hari yang berbeda dari hari - hari lainnya bagi amir?
dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 Januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti
amir ini termasuk orang yang perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dengan
hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut - nyebut bahwa 1 Januari adalah



hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan



kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yang



62 kenalilah akidahmu 2



lebih luas dari sekedar pertanyaannya. Sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan



umroh pada 1 Januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yang berpendapat



bahwa boleh merayakan maulid hanya dengan puasa saja maka tentunya dari dangkalnya



pemahaman terhadap ilmu bahasa.
Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab
: hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada
pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa di hari itu.
Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw,
karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya Islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw,
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka
Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka
Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi
saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang - benderang, dan
langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam
tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain
hadits No.5417)

Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan
Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka,
Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah
karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits No.4813, Sunan
Imam Baihaqi Alkubra hadits No.13701, Syi’bul Iman No.281, Fathul Baari Almasyhur juz
11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini di bantai di alam barzakh, namun tentunya Allah
berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah
menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dengan kelahiran Rasul saw dengan
membebaskan budaknya.


Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun
mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang
kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan
kenalilah akidahmu 2 63

Nabi saw maka Imam - Imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah
bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh Imam - Imam dan mereka tak
mengingkarinya.

Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar ra, lalu
Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini di hadapan orang yang lebih mulia
dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan
berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dengan doa : wahai Allah
bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (Shahih Bukhari
hadits No.3040, Shahih Muslim hadits No.2485)



Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana



beberapa hadits shahih yang menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa



yang dilarang adalah syair - syair yang membawa pada Ghaflah, pada keduniawian. Namun



syair - syair yang memuji Allah dan Rasul-Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw



bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak



riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk



Hassan bin Tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair - syairnya (Mustadrak



ala Shahihain hadits No.6058, Sunan Attirmidzi hadits No.2846) oleh Aisyah ra bahwa



ketika ada beberapa sahabat yang mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata :



“Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw” (Musnad



Abu Ya’la Juz 8 hal 337).



PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITS ATAS PERAYAAN MAULID



1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :



Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang ke



Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul



saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah



menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka



bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya



perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya,



64 kenalilah akidahmu 2



dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur,



puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan



Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN



ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA



RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164)



2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :



Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk



dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad



Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa



telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah



tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas



dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan



beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka



sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan



mengumpulkan teman - teman dan saudara - saudara, menjamu dengan makanan - makanan



dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam



Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama :



“Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.



3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :



Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat



setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan,



menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan



rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.



4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam



kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :



Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?,



ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua



sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi



(saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu



Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia



kenalilah akidahmu 2 65



gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad



saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan



Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan



sebab anugerah-Nya.



5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam



kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :



Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits



Abu Lahab



6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah



Berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan



setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah



pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid,



dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.



7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah



Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah



pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”



8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah



Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan



maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai



semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.



9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah



Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata:



”Maka Allah akan menurunkan Rahmat-Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran



Nabi saw sebagai hari besar”.



10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang



terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi



Dengan karangan maulidnya yang bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”



66 kenalilah akidahmu 2



11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri



Dengan maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”



12. Imam al Hafidh Ibn Katsir



Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”



13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy



Dengan maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”



14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy



Telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad



arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.



15. Imam assyakhawiy



Dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi



16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi



Dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah



17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan Ibn Diba’ dengan maulidnya addiba’i


18. Imam Ibn Hajar Al Haitsami Dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam



19. Imam Ibrahim Baajuri Mengarang hasiah atas maulid Ibn Hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar



20. Al Allamah Ali Al Qari’ Dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi



21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji


23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani Dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad



24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy



Dengan maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’



25. Imam Ibrahim Assyaibaniy



Dengan maulid al maulid mustofa adnaani



26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy



Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”



27. Syihabuddin Al Halwani



Dengan maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif



28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati



Dengan maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar



29. Asyeikh Ali Attanthowiy



Dengan maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa



30. As syeikh Muhammad Al maghribi



Dengan maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.



Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yang menentang dan melarang hal ini,



mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yang menentang maulid



sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya



menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yang jelas - jelas



meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.



68 kenalilah akidahmu 2



BERDIRI SAAT MAHAL QIYAM DALAM PEMBACAAN MAULID



Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan



Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada



kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yang dianjurkan oleh Rasul



saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika Sa’ad bin Mu’adz ra datang maka



Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (Shahih Bukhari



hadits No.2878, Shahih Muslim hadits No.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk



Ka’b bin Malik ra.



Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yang



dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya,



juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yang



adil dan yang semacamnya merupakan hal yang baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yang



dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk, dan Imam Nawawi yang berpendapat bila



berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan



putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yang melarang berdiri



untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala



Shahih muslim juz 12 hal 93)



Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid



itu tak ada hubungan apa - apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir



dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan



maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yang tak



bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat



mengenai berdiri penghormatan yang Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri



untuk memuliakan beliau saw.



Jauh berbeda bila kita yang berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat



dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut



risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada



nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat



beliau saw.



Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam



Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam



kenalilah akidahmu 2 69



Imam besar di zamannya dalam perkumpulan yang padanya di bacakan puji - pujian untuk



Nabi saw, lalu diantara syair - syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy



dan seluruh Imam - Imam yang hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukkan yang luhur



dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan.



Dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi



kesepakatan para Imam bahwa itu merupakan hal yang sunnah, (berlandaskan hadist Shahih



Muslim No.1017 yang tercantum pada Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala



dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu



Bid’ah hasanah. Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah,



mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia



dan membawa keberkahan bagi mereka yang mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal



137)



Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig



dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yang diselingi bershalawat dan



salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yang sudah diperbolehkan



oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka



semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yang dalam ghaflah,



maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yang mengingkarinya karena jelas - jelas



merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas



dipungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena



hal ini merupakan hal yang mustahab (yang dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa



“Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yang menjadi penyebab kewajiban



dengannya maka hukumnya wajib.



Contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya



wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan



shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka



membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan



shalat yang wajib .



70 kenalilah akidahmu 2



Contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya



mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong,



maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat



kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh



siwak yang hukumnya sunnah.



Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah



merupakan hal yang wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak



perduli dengan Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu



pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tabligh ini adalah dengan perayaan Maulid



Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tabligh dan



Dakwah serta pengenalan sejarah Sang Nabi saw serta silaturahmi.



Sebagaimana penulisan Alqur’an yang merupakan hal yang tak perlu dizaman Nabi saw,



namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yang



membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para



sahabat yang wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah



menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.



Hal semacam in telah di fahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat



radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin



yang awam, namun hanya sebagian saudara - saudara kita muslimin yang masih bersikeras

untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, aamiin. Walillahittaufiq
Sumber : Kitab KENALİ AQİDAHMU yang disusun oleh Al-Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa






close
============> [ Close ] =============
>